Saat istirahat, Kenny masih ada di kelas. Dia masih belum mengenal teman-temannya, sedangkan teman sebangkunya sendiri masih aja cuek. Huft... kira-kira gue ke kantin aja atau tetep di kelas ya? Tiba-tiba, Reinald masuk ke kelas. Jantung Kenny tiba-tiba juga berdetak lebih cepat. Gila, Reinald ke sini. Mana kelas lagi sepi lagi. Cuman ada tiga orang sama gue.Reinald pun berjalan ke tempat duduknya, yang nggak lain dan nggak bukan adalah tempat duduk di samping Kenny.
Sesampainya di tempat duduknya, Reinald langsung aja duduk. Tentu aja Kenny langsung salah tingkah. Tiba-tiba saja Kenny asal mengambil buku yang ada di depannya. Dia pura-pura membaca buku itu, tanpa disadari bahwa buku yang pura-pura di bacanya untuk menutupi wajahnya yang memerah itu terbalik. Reinald yang menyadari keanehan itu langsung bertanya ke Kenny. “Heh, lo niat baca buku nggak sih?” Kenny tiba-tiba sadar dengan kekeliruannya. Aduh, Reinald nyadar nggak ya kalau gue itu nervous banget duduk di dekatnya dia, sampai-sampai gue baca buku aja kebalik. “Eh... iya ya.” Kennypun membalik bukunya. “Ken, wajah lo kok merah gitu? Lo pucet deh. Lagi sakit ya? Mending lo ke UKS aja deh.” Reinald sepertinya sadar kalau wajah Kenny memerah, tapi dia hanya berpikir kalau itu karena Kenny sedang sakit. “Mmm... gue nggak apa-apa kok.” Kenny menjawab
Kenny speechless. Dia nggak berbicara lagi sepanjang waktu istirahat. Sewaktu pelajaranpun Kenny tetap terdiam. Kenny malu banget gara-gara kejadian tadi. Hingga saat pulang sekolah dia masih aja diam.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar